Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Merayakan Kegagalan Pencarian Beasiswa LPDP

Umur saya tahun ini sudah mencapai 31 tahun. Dan saya ingin sekali menempuh magister. Kondisi keuangan yang pas-pasan bahkan Menengah bawah, belum memungkinkan untuk nekat kuliah dengan biaya sendiri. Harus ada beasiswa. 

Mulai di akhir 2023, mencari informasi beasiswa. Salah satu yang prestisius adalah LPDP. Mulai mempelajari persyaratan berkas, dan salah satu yang urgen adalah sertifikat TOEFL. Saya memutuskan untuk mengikuti les bahasa Inggris di Balai Bahasa Universitas Negeri Malang. 

Januari 2024, mulai kursus bahasa Inggris. Not bad, hasil pretest saya 450an. Les bahasa Inggris 5 hari dalam seminggu berasa menyenangkan. Harganya juga terjangkau, masih dilengkapi dengan modul yang sistematis. Mulai materi dari yang sederhana, hingga kompleks, hingga materi yang memang gitu adanya dan harus dihafal/dipahami.

Waktu pembukaan beasiswa LPDP dibuka ketika les bahasa Inggris masih berlangsung. Tidak menunggu selesai semua pertemuan,  saya nekat daftar tes TOEFL. Tes itu mungkin berada di hari ke 33 dari total 40 hari dalam pembelajaran bahasa Inggris. 

Tes selesai dan tak kunjung terbit sertifikatnya. Akhirnya, tidak lolos berkas seleksi LPDP karena memang tidak melampirkan sertifikat TOEFL ITP.

Agustus 2024, mencoba kembali tes beasiswa LPDP. Semangat membara untuk dapat menaklukkan beasiswa, pemberkasan dasar tentu sudah siap. Kini, essaynya harus lebih matang. 

Kebetulan kakak ipar saya awardee LPDP Targeted PNS. Saya rasa akan semakin matang jika dikoreksi olehnya. Essay telah dikoreksi, dan akhirnya lolos seleksi administrasi skema afirmasi prasejahtera. 

Tahapan berlanjut, passing grade prasejahtera cukup tercapai dengan lumayan jauh. Saya mendapat nilai 155 dengan ambang batas 105. Tidaklah saya di tahap persiapan yang paling mendebarkan, seleksi wawancara. 

Tidak melewatkan kesempatan untuk dapat belajar dengan kakak ipar lagi. Dibantu temannya, Muhammad Manaf, latihan untuk simulasi wawancara. 

Simulasi yang lumayan kacau. Saya nerveus parah, tidak ketulungan. Banyak pertanyaan kecil pun tidak terdeliver dengan baik jawabannya. Namun dengan ini saya makin belajar. Makin mawas diri.

Wawancara sebenarnya dimulai. Saya siapkan ruangan di lantai 3 tempat saya bekerja. Ijin meminta  waktu 1 jam untuk mengikuti wawancara dengan seksama dan tanpa gangguan. 

Pertanyaan terjawab dengan penuh kesadaran. Percakapan terasa lancar, meskipun saya tidak tahu rubrik bagaimana rubrik penilaian yang diberikan. 1 pertanyaan yang membuat kegagalan saya?

Kamu ini mau apa? Apa yang telah kamu lakukan kepada masyarakat desa yang kamu ceritakan itu?

Diam, sediam-diamnya.

Saya hanya bisa berkata "saya akan belajar lagi"

Wawancara berlalu, waktu pengumuman telah datang. Ya, saya tidak lolos dalam seleksi LPDP ini. Dan saya sangat mawas diri.

Setelah itu, saya mencoba kembali yang ke-3. 

Hambatannya kini lebih besar, saya tidak lagi elogible pada skema afirmasi. Aku harus bertarung di skema reguler. 

Dan iya! Ini adalah skema neraka. Passing grade tes skolastik cukup tinggi, 160. Sedangkan nilaiku hanya 150, turun dari nilai tahap sebelumnya.

Sampai saat ini saya masih menginginkan beasiswa S2 itu. Tapi, ada pertanyaan yang lebih mendasar, apakah kamu benar-benar membutuhkan beasiswa itu? Apa yang kamu bisa lakukan dengan beasiswa itu?

Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab dahulu, sebelum ditanyakan oleh pemberi beasiswa.

Semoga curhatan ini dapat memeberi ruang bagi saya untuk berbagi. Nantikan cerita saya pada saat memperjuangkan Beasiswa Indonesia Bangkit. Akan saya tulis di waktu mendatang