Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Otak Politis Warganet Indonesia

Ya, kita tidak lepas dari media sosial. Media sosial kini sudah menjadi bagian integral dari seorang indovidu. Apalagi kita hidup di Indonesia yang masyarakatnya komunal banget. Media sosial seolah wajib dimiliki oleh tiap ekor manusia.

Netizen alias Warganet, di Indonesia, yang saya lihat seringkali melihat fenomena dengan politis, mendramatisasi dan politis.

Lihat saja bagaimana fenomena logo halal yang baru berkecamuk. Tudingan kepada kemenag adalah terlau jawasentris, . Sedangkan yang pro kemenag menuding yang tidak suka dengan logo baru adalah kadrun-kadrun yang kehilangan ladang keuangannya di MUI.

Faktanya, melalui kebijakan yang baru, MUI tetap dilihatkan dalam sertifikasi produk halal. Namun pada bagian fatwa, sedangkan BPJPH bagian admistrasinya.

Padahal, orang kurang srek dengan logo baru memang keterbacaanya jelek. Bagi orang yang pernah belajar khat, mungkin masih bisa mengejar cara membacanya. Bagi yang tidak pernah belajar, tentu sulit.

belum lagi yang menganggap logo halal yang baru bisa dibaca sebagai "Haram". Saya sih kurang setuju dengan pernyataan ini. Meski begitu tetap saya anggap huruf Lam terakhir kurang terbaca. Sedangkan hurum lam kedua, masih jelas terbaca

Dan komentar seperti ini keluar dari para praktisi desain yang memang memahami esensi dan tujuan penggunaan/aplikasi dari penggunaan logo.

Begitulah tudingan-tudingan yang bersliwer di media.

Menanggapi pawang hujan di motoGP juga ramai sekali.

Beberapa umat islam yang menganggap pawang hujan tidak islami. Musyrik meminta hujan atau menolak hujan melalui manusia. Apalagi, fenomena pembalab yang melakukan impersonate Mbak Rara sedang melalukan ritualnya, digunakan sebagai dalih untuk menghindar dari tudingan mencela adat bangsa.

Pun ada yang bersikekeh membela pawang hujan sebagai adat budaya bangsa. Menganggap kelompok yang menyerang sebagai kadrun. Dan, lagi-lagi jatuhnya politis dan tidak sehat.

Ada pula kelompok islam yang lebih simpatik melihat fenomena pawang hujan. Bahwa, boleh saja meminta hujan atau menolak hujan. dan ritual sebagai bentuk cara beribadah. Tentu tidak menganggap cara menolak hujan tersebut sebagai bagian dari syariat.

Kemudian, disamping itu ada yang bersuka-cita dengan branding dan marketing gratis akibat viralnya kejadian ini. Fenomena Mbak Rara mengakibatkan Indonesia menjadi pusat perhatian internasional terutama pecinta motoGP. Sehingga kemungkinan periwisata di Indonesia akan meningkat.

Aku hanya mengajak diri saya sendiri dan teman-teman sekalian untuk tidak bertindak ekstrim menghadapi fenomena. Pemahaman dan keilmuan yang berimplikasi terhadap terhadap bias kelompok tentu saja ada. Tapi tidak perlu membabi buta. Jika tidak mendukung saya maka dia kelompok lawan.

Mari kita mendengarkan pendapat orang lain secara simpatik. Untuk perdebatan netizen, kita anggap saja sebagai bentuk hiburan.

Post a Comment for "Otak Politis Warganet Indonesia"