Kisah Hidup Mbah Pinah
Nenek saya bernama pinah. Sosok kuat,tegar, dan sabar. Beliau adalah ibu dari ibu saya. Nenek dari ibu.
Perjalanan hidup lika-liku. Sejak kecil sudah ditinggalkan oleh orang tuanya. Telah berpulang ke Rahmatullah. Semoga Allah memberi rahmatnya.
Lingkungan pinah kecil tidak terlalu nyaman dihuni. Pasalnya, di waktu kemarau air mengering. Bahkan hanya sekadar untuk mandi dan minum kesulitan. Tempatnya juga didekat hutan.
Pinah kecil dimomong oleh pamannya. Meski ditinggal oleh orang tuanya di waktu belia. Saat dewasa dia tetap menerima sawah garapan dari orang tuanya dulu.
Paman pinah tidak rakus, dia tetap memberikan hak tersebut kepadanya.
Pinah menikah di waktu yang sangat belia. Tidak sempat menikmati bangku sekolah, tidak bisa baca tulis. Tapi alhamdulillah bisa berhitung.
Nemiliki anak pertama mungkin baru sekitr umur 15 tahun.
Ku tidak hapal nama suaminya yg pertama. Pinah menjanda di usia muda, beranak satu.
Beliau jadi sosok yang kuat, dan penyayang. Anaknya banyak. Dari Taskun, suaminya yang kedua, beliau memiliki 6 anak. Totalnya 7 dengan putri pertamanya, dari suami yang pertama.
Meski tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Beliau sangat berkarakter.
Sebagai cucu, saya merupakan salah satu cucu yang manja. Pasalnya saat SMA, aku tinggal dengan beliau dan sering diberi uang saku sekolah.
Alhamdulillah, rejeki dari berjualan pisang dan arang terus mengalir meski sedikit demi sedikit. Di saat saya SMA, mungkin sudah 60an tahun. Tetapi masih kuat mengangkat arang 1 karung penuh.
Satu lagi yang saya suka dari beliau. Ia tak membedakan anak-anaknya. Tidak pernah membandingkan anak-anaknya.
Anak tetaplah anak, meski sudah dewasa. Bisa mencari nafkah sendiri-sendiri. Anak tetaplah anak yang selalu beliau kasihi. Bahkan cucu atau cicit sekalipun.
Sehat selalu nek.... semoga umur panjang nenek selalu berkah. Aamiin