Merajut Identitas Islam, Jawa dan Indonesia
Menuju usia senja, saya memikirkan bagaimana anak saya nanti saya arahkan. Setidaknya aku ingin mendidik anak dengan 3 indetitas: Islam, Jawa, dan Indonesia.
Indetitas ini sepertinya sepele, tapi di tengah arus globalisasi, menjaga identitas dapat memberi daya tawar. Menjaga indentitas, menjadi distingtif, unik, dan kompetetitif. Begitu setidaknya yang saya pahami.
Identitas Islam, ialah dengan memberi pemahaman Islam itu sendiri. Mengenalkan fondasi keislaman. Jika sudah cukup dewasa memahami, dapat memperkenalkan perbedaan pemahaman Islam. Saya kira penting untuk mengalkan islam dari sisi ushul maupun furu'.
Identitas Islam, tidak lepas dari literasi huruf Arab. Tujuan minimal pengenalan huruf arab adalah dapat membaca kitab suci dengan benar. Lebih jauh, dikenalkan dengan bahasa Arab. Bahasanya Nabi, Bahasa dari risalah keislaman. Bahasa yang sejak 1500 tahun lalu, tidak mengalami perubahan yang berarti.
Huruf Arab pun diadopsi dalam kebudayaan Jawa. Huruf pegon. tulisan arab yang dibaca dengan cara-cara Jawa. Lebih luas, orang-orang melayu menyebutnya aksara Jawi.
Meski demikian, orang jawa memiliki huruf tersendiri. Huruf Jawa Baru. Huruf yang digunakan keraton-keraton Mataram dan penerusnya (Yogjakarta, Pakualaman, Surakarta dan Mangkunegaran) untuk literasi pada jamannya.
Kini, huruf itu tidak lebih dari dekorasi ruangan dan arsitektur etnik.
Beda lagi dengan huruf pegon. Penggunaanya masih lestasi di pesantren-pesantren Jawa. Pun yang menarik, bahasa Jawa ikut terkonservasi di sana. Ada beberapa istilah Jawa yang tidak ditemukan dipercakapan sehari-hari, namun muncul dalam tradisi pesantren.
Harus diakui, Identitas Jawa dan Islam telah merangsek masuk. Melebur. Bahkan bisa jadi sulit dibedakan. Jika menggunakan Identitas Jawa, adalah kemungkinan 97% ia adalah muslim.
Bagi keturunan Jawa "Menjadi Jawa, Islam, dan Indonesia" saya rasa memang tidak susah. Karena 3 indentitas ini sudah teringrasi seabad yang lalu. Islam dan Jawa secara gradual Setidaknya saat nama Indonesia muncul ke publik, 1928.
Menjadi Jawa, Islam, dan Indonesia yang sehat tersusun dari bangunan-bangunan kesadaran. Sehingga dapat nemempatkan diri pada porsi yang pas.
Post a Comment for "Merajut Identitas Islam, Jawa dan Indonesia"
Silahkan berkomentar, kritik dan saran anda sangat kami harapkan