Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jodoh Sudah Ada yang Mengatur



Orang bilang "Jodoh, Rejeki dan Mati sudah diatur. Tapi bagaimana memaknai kalimat ini dengan nalar?

Saya akan berbagi cerita tentang jodoh. Saja.

Awalnya, saya ragu. Apakah jodoh itu benar-benar sudah ada yang mengatur? padahal, jodoh bisa diusahakan. Kita jelas punya preferensi tertentu dalam memilih pasangan. Tentu pasangan yang baik dari wajahnya, nasab, lebih-lebih hartanya.

Jodoh itu sekilas bisa diusahakan, tapi ternyata, fenomena yang saya alami dan amati tidak semudah itu. Ada faktor banyak faktir ikut mengatur kriteria kita memilih jodoh.

Pertama, faktor preferensi. Kita memiliki faktor preferensi dalam memilih jodoh. Naluri, insting manusia mengarah menuju evolusi yang lebih baik (versi tiap individu). Saya belum menemui argumentasinya, tetapi yang saya amati preferensi orang yang bertubuh ramping, lebih menyukai lawan jenis yang bertubuh ramping.

Faktor preferensi ini tidak semudah dicapai juga. Bisa jadi, laki-laki bberkeinginan, namun perempuan tidak berkenan. Tiap individu, baik laki-laki maupun perempuan punya preferensi untuk menyukai atau menerima calon pasangan.

Faktor keluarga, tentu ada saja keluarga yang mengkonstruksi selera dalam memilih pasangan. Kontruksi ini mungkin lebih menekankan pada kontruksi pada nasab.

Faktor keluarga merupakan faktor yang menentukan pada proses pernikahan berlangsung. Dalam tradisi Islam sangat mementingkan posisi orang tua, terlebih orang tua perempuan. Madzhab yang umum dipakai di Indonesia menaruh posisi penting adanya wali dari perempuan. Wali yang utama dan pertama adalah ayah.

Faktor Sosial. Sangat sulit ditemukan bahwa orang kaya nikah dengan orang yang miskin. Mungkin bisa terjadi pada 1 juta banding 1 orang. Tapi, dalam lingkaran saya, saya belum menemukan fenomena ini. Jikalau ada, dugaan saya pasangan ini telah mengalami kenaikan kelas sosial, misal dari sisi pendidikan.

Faktor pendidikan dan kontruksi pengetahuan. Orang dengan latar belakang pendidikan tinggi, akan lebih  memilih pasangan yang sama-sama menempuh pendidikan tinggi. Begitu juga santri. Preferensinya santri.

Kontruksi pendidikan dan ilmu pengetahuan ini membentuk pemahaman individu agar komunikasi menjadi nyambung. Saya rasa juga akan kesulitan, ketika orang yang memiliki latar belakang santri menikah dengan yang tidak pernah mengenyam pendidikan ala pesantren. Meski, yang seperti ini juga saya temi di lingkaran saya.

dari sekian banyak faktor yang ada, kecil kemungkinan seseorang untuk bisa memilih dengan bebas pasangannya.

Benar kata nabi, Wanita dinikahi karena hartanya, karena nasabnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Tetapi pilihlah yang baik agama maka kau akan selamat.

Dalam teks sebenarnya, agama merupakan terjemahan dari Ad-diin. Agama bukan hanya ritual, tetapi juga ilmu dan akhlaknya. Kedua poin yang sebenarnya lumayan sulit diukur secara kuantitif oleh manusia.

Jadi, dalam perjodohan. sarankan untuk memilihlah, dan tawakkal. Selanjutnya bagaimana kamu menjalaninya.