Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Berdamai dengan Skripsi

Masih ingat dengan buku karya senior, "Berdamai dengan Waktu". Saya ingat, buku itu sekaligus kenang-kenangan pernikahan yang diberikan kepada undangan. Menarik, gumanku. Ada keinginan terbesit juga untuk mengumpulkan beberapa tulisan untuk dikumpulkan menjadi buku sebagai sovenir di pernikahanku (entah berapa tahun lagi) nanti.

Berdamai dengan waktu itu soal kesadaran diri terhadap waktu. Penulis mengajarkan, percuma kita memusuhi waktu, dia akan terus memakan kita. Dekati waktu, dan buatlah gencatan senjata dengannya. Seperti andagium terkenal, "waktu itu seperti pedang, jika kamu tidak memotongnya, kamu akan dipotongnya".

Rasanya, membunuh waktu tidaklah istilah yang tepat, karena dia akan terus berjalan diatas velositas-nya. Dekati dia, buatlah perjanjian, setelah itu komitmen. Sekali kita tidak komitmen, kita akan dibunuh kembali oleh waktu.

Rasanya, mirip sekali dengan skripsi. Skripsi yang saya anggap musuh, harus saya taklukan, bukan dengan membunuh atau mencacinya, melainkan berdamai dengannya. Berdamai berarti membuat mu'ahadah (perjanjian), aku adalah wa'idm (subyek janji) sekaligus mau'ud (obyek janji). Sedangkan dia hanya sebagai mau'ud. Jika aku tidak menepati perjanjian, waktu lah yang menjadi hakim atas perbuatanku.

Meski sudah berdamai dengan skripsi, tentu kamu tidak bisa guyon dengannya. Bercanda dengan skripsi tentu hal yang mustahil dilakukan. Dia tidak bisa bicara woey!!.Tapi kamu tentu punya cara berasyik ria untuk menjadikan skripsi sebagai media kreativitasmu.

Untuk para pejuang skripsi di luar sana. Jangan menyerah, masih ada temanmu yang berjuang juga. Bahkan di semester ujung masa studinya.

Untuk pejuang skripsi, berhenti untuk membandingkan dirimu dengan orang lain, bahkan teman karibku sekalipun. Kamu adalah kamu. Aku adalah aku. Apa yang kita tanam, akan kita petik masing-masing.

Biarlah temanmu sudah lulus magister, sedangkan kamu lulus sarjana saja belum. Perlu diingat, kita adalah manusia dewasa. Manusia yang sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya masing-masing. Tak iri dengan orang lain, cukuplah menoleh dan jadikan motivasi untuk diri sendiri.

Ingat, setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing.

Jokowi jadi presiden di umur 53 tahun sedangkan Sukarwo jadi Gubernur di umur 59 tahun. Bukan berarti Sukarwo kalah dengan Jokowi, akan tetapi sudah ada jatah dan garis waktunya masing-masing.

Salam, pejuang skripsi mahasiswa (pol) akhir.


Post a Comment for "Berdamai dengan Skripsi"